Dunia Adin

Dunia Adin

by Sundea

Di sana dia dan Coki, sahabatnya, pernah menyelamatkan seekor ikan yang hampir dimasak.

Adin juga pernah bermain dengan Dombiru, seekor domba berwarna biru.

Pernah pula mewarnai melati Jepang dengan spidol ungu.Seorang teman tertarik pada dunia Adin.

Dia pun mencatatkan keseharian Adin untuk kita semua.

Setelah terlibat dalam keseharian Adin, mungkin kamu pun akan menemukan dirimu di sana.

  • Language: Indonesian
  • Category: Childrens
  • Rating: 3.79
  • Pages: 264
  • Publish Date: September 2007 by Read! Publishing House

Read the Book "Dunia Adin" Online

( Simon, 6 tahun ) Sebetulnya Dea sudah punya persepsi tentang anak-anak, tapi supaya lebih yakin dan bisa berbahasa seperti mereka, ketika memutuskan untuk menulis novel Dunia Adin ini Dea terjun ke tengah-tengah mereka. Anak-anak yang secara nyata berlari, tertawa, berbicara, bermain, dan bersentuhan dengan Dea seperti menyentil mind set Dea. Mereka ternyata jauh lebih cerdas daripada yang Dea kira. Waktu Dea sungguh-sungguh masuk ke dunia bermain mereka (betul-betul terlibat, lho, bukan sekedar menemani mereka bermain) terasa benar bahwa anak-anak adalah seniman yang kreatif dan produktif. Melihat betapa dalam makna yang bisa dijaring dari kegiatan bermain di dunia anak-anak itu, Dea jadi percaya ada sebuah wilayah pada ekspresi seni yang berpangkal pada kesenangan bermain.

Sebelumnya saya tidak tertarik dengan children literatur karena merasa sudah sok dewasa, bacaan yang pernah saya enyam waktu kecil pun novel romance, novel dewasa, hahaha, dewasa sebelum waktunya. Kemudian tahun lalu saya mencoba merambah children literatur dalam proses perluasan genre bacaan saya, di mulai dengan meminjam buku anak dari penulis yang terkenal, Enid Blyton. Saya membaca terlebih dahulu seri Malory Towers karena banyak yang bilang bagus, keren, memorable, memicu orang untuk sekolah di asrama, tapi kesan yang saya dapat adalah cerita tentang anak-anak iri dengki, proses pendewasaan dengan berbagai drama, kata-kata/perbuatan kasar dan saya tidak nyaman membacanya. Saya bisa bertahan membaca keenam seri tersebut namun gagal dalam seri St. Clare, hanya membaca seri pertama dan itu pun ceritanya nggak jauh beda dari Malory Towers. Bukan cerita kasar atau sulit dicerna yang ingin saya dapatkan dari buku bertema children literatur, saya membayangkan buku anak itu bercerita tentang kepolosan anak-anak, bagaimana dengan kepolosannya itu bisa merubah banyak hal. Saya temukan di buku dalam negeri, yap, nggak perlu jauh-jauh ke Inggris atau ke masa lalu untuk mendapatklan cerita anak sesuai dengan selera saya, saya menemukan buku anak yang benar-benar cetar membahana badai -meminjam istilah Syahrini- yang ditulis oleh penulis dalam negeri, tentang kepolosan anak kecil, cerita yang tidak kasar, mudah dipahami, mengandung pesan moril yang mungkin sering kita temui dikehidupan sehari-hari, cerita yang bisa diterima semua kalangan, Dunia Adin. Seperti judulnya, Dunia Adin bercerita tentang kehidupan Adinda Alissa atau yang biasa disapa Adin atau gembul, gadis kecil berusia enam tahun yang polos dan disayangi semua orang. Di cerita awal kita akan dikenalkan kepada keluarga Adin, Papip dan Mamim-nya, tidak ketinggalan dengan keluarga besar yang tinggal di seberang rumah Adin, yang sangat menyukai Adin, keluarga Panggabean. Untuk menghiburnya Mamim bercerita kalau Tuhan kasian melihat Maub-Maub kesepian, kemudian Dia menawarkan surga agar tidak kesepian lagi. Penyihir yang Menyihir Bang Ruli: Sekarang bang Ruli tidak punya waktu lagi untuk memeriksa pe-er Adin dan Coki, keluhan tidak hanya datang dari mereka berdua saja tapi semua adik-adiknya. Penyakit Batuk Selamanya: Akhir-akhir ini Edu sering membawa teman perempuannya yang serba bisa, jago maen game, basket dan karate, dia periang dan cepat akrab dengan orang lain. Karena berasa aneh, Adin menganti sebuatan kedua orang tuanya menjadi papi dan Mami, dia juga mengganti nama bambang menjadi Dodi agar terdengar keren. Adin curhat sama Papip kalau dia ingin memakai celana saja kayak Bambang dan Dimas biar kalau mau manjat lebih gampang. Dia pun mulai mencoba membuat gambar teman tante Alya yang bertampang berantakan tersebut. Sama seperti manusia, mereka cuma perlu diperlakukan dengan baik dan penuh kasih sayang." Tidak Semua Dinding Boleh Digambari: Karena ada temannya yang tidak bisa membaca tulisan di papan dengan jelas, Adin bertukar tempat duduk dengan temannya sehingga kini dia duduk di pojok belakang. Bedanya dinding Adin ada gambarnya, dia lalu menyimpulkan sendiri kalau dinding kamar Adin mirip dengan dinding kelas, berarti dinding kelas juga boleh digambari. Dia juga mengajak dua teman yang duduk di depannya untuk berpartisipasi dalam membuat komik di dinding, yang tidak lama kemudian kena marah sama gurunya. Karena ada aturan dan sopan santun, Din. Sesuatu yang harus dilakukan supaya hubungan kita dengan orang lain di sekitar kita tetap baik." terap Mimim panjang lebar. Dengan begitu, Adin akan disayang oleh semua orang, di mana pun Adin berada." tambah Mamim sambil tersenyum. Sundea berhasil menjelma sebagai anak kecil tersebut, dia menciptakan karakter Adin yang loveable, di sukai banyak orang dan pemikirannya benar-benar.... Begitulah seharusnya anak kecil, polos apa adanya, yang awalnya nggak tahu apa-apa (Adin yang menggambar daun dengan spidol agar warnanya tetap awet), belajar dari kesalahannya (Adin yang mencoret-coret tembok), menyayangi tanpa pamrih dan orang yang lebih besar pun memberikan penjelasan yang sekirannya mudah dicerna oleh si anak tersebut. Setelah membaca buku ini saya jadi ketagihan ingin membaca tulisan Sundea lainnya, terutama yang tentang children literatur :D.Buku ini recomended banget bagi setiap orang tua yang ingin mendongeng kepada anaknya, banyak ilmu yang bisa dipetik yang tidak jauh-jauh dari keseharian kita, yang mungkin pernah juga kita alami.

Saya suka bermain dengannya karena cara berpikir dia yang mengejutkan dan jenaka. Ilustrasi ini, bagi pembaca anak-anak, sangat membantu mereka untuk lebih memahami jalan cerita. Secara fisik, tampilan buku Dunia Adin ini sudah sangat memadai sebagai bacaan anak-anak. Menurut saya, tidak seharusnya seorang ayah menyebut putrinya yang cantik dengan panggilan kesayangan seperti itu. Menurut penulisnya seperti yang dapat dibaca diblog miliknya, untuk memperoleh pemahaman yang sebenarnya mengenai dunia anak-anak, ia menyempatkan diri melakukan observasi dengan terjun langsung bermain dan bergaul bersama bocah-bocah cilik itu di SDK Yahya dan Sanggar Kreativitas Bumi Limas, Bandung. "Mereka menangkap macam-macam isu, bahkan isu politik yang sedang berkembang, lalu secara menakjubkan mampu menghubungkannya dengan keseharian", tutur Dea lebih lanjut, "Mereka bisa membangun konsep Tuhan melalui cara berpikir yang sederhana tapi ternyata filosofis", tambah gadis berusia 26 tahun ini lagi. Akan tetapi, buku ini tentu belum bisa dikatakan mewakili seluruh kenyataan yang ada di dunia atau untuk skup lebih sempit lagi, Indonesia (Kalau mau lebih kecil lagi : Bandung).

Lain dengan Coki yang sedikit pendiam, Adin adalah sosok gadis kecil yang punya rasa keingintahuan yang besar, tapi mereka berdua sama-sama berhati lembut dan penyayang.

Buku ini membuat saya jatuh cinta pd Adin, juga mamim dan papipnya.

Cerita dalam buku ini betul2 bisa mengubah pandangan bahwa anak kecil ternyata lebih cerdas dibanding dari yang kita pikir...dan dapet insight juga apa yang bisa kita lakukan untuk mendidik anak kelak...