Penggambar Mimpi

Penggambar Mimpi

by Nurkastelia A.

A book with twelve short stories compiled from four writers.

As colorful and as dark as you want it to be.

And just because, of course.Written by E.

  • Language: Indonesian
  • Category: Fiction
  • Rating: 3.04
  • Pages: 90
  • Publish Date: July 2008 by BalonUdara Publishing

Read the Book "Penggambar Mimpi" Online

mimpi juga sebuah laku. dalam mimpi, orang juga bisa berusaha, membuat keputusan, ambil risiko, bahkan bisa membuat hal yang tak terduga-duga sebelumnya. lewat mimpi, teks bisa menjadi senjata untuk mengelak dari kenyataan. sebuah laku yang tak cocok dipraktekkan dalam arus kemajuan kota: rasionalitas, efisiensi, dan produktivitas. sebuah cerita kadangkala bisa dinikmati dalam fragmen yang rahasia.

ini baru review, yang kmaren2 mah koq malah jadi korban gosip pokonya ini buku jatoh dari langit pertama-tama gw langsung ngikutin "petunjuk" gieb yang menyarankan baca buku ini sambil ngebayangin penulisnya, hehehe. nah, karena buku ini terdiri atas 12 cerpen jadi gw binun buat ngeratingnya. gw baru tau kalo buku ini ternyata buku indie (makasih ceritanya Po) pokonya selamat aja buat para penulisnya dan makasih udah ngasi tandatangan di bukunya meski ada atu tanda tangan "palsu" hehehehe akhir kata jadi inget ama lagu ini cause baby we belong in a world that must be strong that's what dreams are made of and in the end on dreams we will depend cause that's what love is made of bener nggaknya ya tanya aja sama Van Halen yang bikin lagunya:D PS: buat Roos, dapet salam dari nyokap, hehehehe

pertama kali buku ini sampai ke tangan, kesan pertama : covernya unik banget setelah pengamatan sebentar : bukunya tipis banget setelah membuka sampul plastiknya, lalu kubolak balik halamannya sekilas : ceritanya banyak banget buku yang hanya setebal 90 halaman (udah termasuk pembuka dan penutup) ini berisi lebih dari 10 cerita. aku seperti bisa menjadi hantu yang menembus dinding dan tepian danau serta melihat dunia dari sudut pandangnya. ini adalah awal dari perjalanan karya para pemimpi yang mulai menjadikan mimpi mereka menjadi nyata dan kenyataan ibarat mimpi.

great stories, gud combination and massive love-deliverance :) 3.5 stars for u guys all buat Sindrow: Apel - terima kasih sangat untuk lemparan pomo d'oro-nya... pelajaran tentang Eris, Helen of Troy dan Plato yg singkat tp indah, aq sampe bersemu merah sendiri love, underground - it takes a mile to go down the road (aimless) but u made it to drag me under yet save me there also ;) luv it so much!!! Runi: Lucid Dreaming 10-Year Reunion When We Dance a note: did u notice that all ur stories were based on broken-wings?

Hence, anything that is perceived is unreal Whether in dream or in waking. Waking is real when there is no dream. Waking is real when there is no dream. Desires are the rulers of all experiences In waking and also in dream. Waking is physical functioning of desires, Dream is mental functioning of desires. Dream and waking have a beginning and an end. Therefore waking is unreal like dream. Many of us know when having had a dream, it can be so vivid that when waking up, we somehow remember what it was about but not completely. I know dreams are frightening at times, that terrible sensation of falling that seems to go on and on until the sudden bump at the end, some say that this is the spirit coming back into the body of man, and that when going to sleep it goes on a kind of walkabout. I know nothing about dreams only that from time to time I do experience them, many that I remember not, the content of when awakening but know I have been with other people, sometimes knowing them whether they are in this present life or in my past that have now gone over to the other side of life. So real are dreams at times that we feel we have actually lived them and the coming back from sleep is normally, quite peaceful but from time to time we feel that bump of suddenness and one is awake in seconds into this space that we do call time. The mind creates the dream out of the materials supplied by the experiences of the waking state. It is the waking personality that creates the dream personality. The dream personality exists as the object of the waking personality and is real only as such. In dreaming there are mental forms. The waking and dreaming states do not exist independently side by side as real units. Dreams are nothing but a reflection of our waking experience in a new form. If the thoughts of the waking state are controlled, you can also control the dream thoughts. Saints and sages appear in dreams during times of difficulty and point out the way. When he wakes up the dream world becomes false. When one attains illumination or knowledge of Brahman, this wakeful world becomes as unreal as the dream world. The real truth is that nobody sleeps dreams or wakes up, because there is no reality in these states. The real must transcend all logical categories; or the categories by which it can be comprehended have to be such as will not only suffice to catch the waking experience but the dream experience too. Such a category must necessarily transcend both the waking and the dream consciousness. Thus we are lead to the necessity of intuition or a logical thought to comprehend Reality, when we begin reflecting upon our dreams. The dreams point out a path unknown to the waking consciousness. The dreams point out a path unknown to the waking consciousness. Saints and sages appear in dreams at times of difficulty and show the way. Both in dreaming and waking External perceptions are considered as real And internal functions as unreal (i.e., they are ignored). If in waking we make a distinction Between real and unreal, In dream also we do the same thing.

Ga adil banget ya kalo gue yang review. Ini bukunya proyek yang beneran tiba2 direalisasikannya, tapi udah lumayan lama kepikiran. Nah, suatu sore Nilam, Runi, & gue lagi ngopi tanpa kehadiran manusia yang 1 lagi di sebuah mall baru setengah jadi di distrik bisnis Jakarta. ntar deh ya di buku selanjutnya (amin) kita coba menjelajah ke negri baru. udah ketauan kan sekarang, kalo secara konsep kita nggak kuat. Tapi kita bangga kok sama bukunya. Judulnya (yang diambil dari judul cerpennya Nilam) pas banget sama kita berempat (ini menurut gue sih ihihi). Karena kita (akhirnya!) nggak cuma bisa duduk2 di kafe, berandai2..

Menarik, cerpen pertama aku suka, kisah cinta yang unik. :) Tapi dari semua itu aku paling suka yang Convivialite.

Bermimpi berarti melihat atau mengalami sesuatu dalam mimpi. Setiap orang bebas untuk berkhayal, berangan-angan, melihat, atau pun mengalami sesuatu dalam mimpinya. Dari (mungkin) sekian banyak mimpi-mimpi yang pernah mereka gambarkan, mereka masing-masing akhirnya memilih tiga mimpi untuk dikompilasi dalam sebuah buku berjudul Penggambar Mimpi. Tema yang diangkat didalam duabelas cerpen dalam buku ini tergolong sederhana karena masih terkait dengan kejadian-kejadian yang bisa atau bahkan sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ada juga cerita berjudul Penggambar Mimpi yang menjadi judul buku ini, yang menggambarkan bagaimana sekelompok orang mempunyai rasa takut untuk menjadi dewasa, takut untuk keluar dari comfort zone-nya untuk menggapai impiannya. Mengejar mimpi memang butuh pengorbanan karena sangat mungkin kita akan kehilangan apa yang sudah kita genggam dalam proses mewujudkan mimpi itu.

Ya,,,gw akui kebetulan itu memang sangat luar biasa, banyak kejadian di kehidupan karena kebetulan-kebetulan itu yang kadang suka buat gw takjub sendiri..dan bilang kok bisa?