Ayahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera

Ayahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera

by Hamka

Abdul Malik Amrullah atau akrab kita sebut HAMKA, adalah sebuah catatan dari seorang anak sekaligus murid tentang sosok Dr. H.

Abdul Karim Amrullah atau Dr.HAKA.

Ayahku ini tidak hanya semata-mata berisi riwayat hidup seorang ulama besar Sumatra Barat atau catatan kasih seorang anak tentang ayahnya saja, namun di dalamnya juga berisi riwayat perjuangan ulama dan perkembangan Islam di Sumatra Barat khususnya dan seluruh Sumatra pada umumnya.

  • Language: Indonesian
  • Category: Biography
  • Rating: 4.28
  • Pages: 362
  • Publish Date: 1982 by Penerbit Umminda

Read the Book "Ayahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera" Online

Buku ini secara tak langsung menceritakan perkembangan agama Islam di Indonesia dan alam Melayu.

Buku ini banyak berkisar tentang ayah Hamka dan perjuangan beliau dalam mengembangkan ajaran Islam di Indonesia..

Maka, pada tgl 4 januari bacaan Ayahku ini saya jeda dan saya memutuskan untuk mengkhatamkannya di Ciamis, tanah kelahiran kakek saya. Saya menduga Hamka dalam penyusunan buku ini pasti membayar dengan waktu, tenaga, dan riset yang luar biasa besar. Sehingga sampai saat ini buku Ayahku masih menjadi rujukan bagi para calon sarjana yang khusus mendalami sejarah Gerakan Modern Islam di Indonesia, Khususnya di Tanah Minangkabau.

Perjuangan Haji Rasul dan sahabat-sahabatnya sesama murid Ahmad Khatib Al Minangkabauwy yang dikenal dengan sebutan ulaman Kaum Mudo bergandengan dengan Muhammadiyah berhadapan dengan Ulama Kaum Tuo dalam pemurnian ajaran islam di Alam Minangkabau. Meskipun Haji Rasul yang memperkenalkan dan membawa Muhammadiyah ke Minangkabau dan secara garis besar mereka sepaham namun beliau tidak bersedia dicatatkan namanya dalam struktur organisasi Muhammadiyah. Walaupun pemahamannya seiring sejalan dalam memberantas TBC dengan Muhammadiyah dan hampir seluruh Struktur organisasi Muhammadiyah ditempati oleh murid, adik, anak, keponakan beliau, namun tak jarang ia menghantam Muhammadiyah dengan lisan dan tulisannya dengan menerbitkan buku. Namun pada akhirnya setelah diizinkan beliu, Muhammadiyah pun mengalah demi menghormati beliu dengan tidak jadi tampil perempuan tadi di podium. Moment Mukhtamar Muhammadiyah inilah yang disebut Hamka, ayahnya kalah karena sejak saat itu namanya boleh digunakan untuk Muhammadiyah. Hamka mengaku tidak sempat belajar inten dengan Ayahnya. hanya sampai kelas IV, karena sering menonton di Bioskop Hamka ditendang Ayahnya untuk belajar pada sahabatnya Ibrahim Musa Parabek. Ini dialog antara ayah dan anak yang membuat saya terharu, Hamka mengutarakan niat untuk belajar pada Ayahnya. Tetapi ada dua ilmu perlu sangat dengan tuntunan guru tidak dapat hanya dengan thalaah sendiri ushul fiqih dan manthiq Terima kasih, kenapa Buya menganjurkan hamba belajar manthiq?, lanjut Hamka Ayah perhatikan dalam tabligh-tabligh engkau suka berfilsafat dan sejarah. Maka dengan belajar manthiq yang telah disusun oleh ulama islam disertai ushul fiqih ayah tidak khawatir engkau akan tersesat karena asyik berfilsafat, karena filsafat sangat berbahaya. Banyak orang mengagumi Hamka karena ketegasan dan keberaniannya dalam menyatakan yang Haq, saya juga begitu. Tapi setelah membaca buku ini tanpa mengecilkan Hamka, ternyata ayahnya, Dr.H. Abdul Karim Amrullah jauh lebih lebih berani dan tegas dalam menegakan yang Haq (Ajaran Islam). Walaupun Maninjau tidak melakukan pemberontakan seperti daerah lain di Minangkabau saat Belanda memberlakukan Belasting (memungut pajak) pasca dihapuskan Tanam Paksa berkat usaha beliau, dengan berdakwah bahwa kekuatan tidak seimbang untuk melawan kompetei dan kekuatan senjata Belanda dan kita akan kalah juga jika melawan, korban akan berjatuhan. Pejabat Jepang mendekatinyabahkan ada yang mengaku sudah masuk islam dengan tujuan beliau bersedia menjadi alat propaganda untuk melegitimasi kekuasaan Jepang di Indonesia. Oah cemas karena tulisan itu, beliau bedah dengan pisau analisis ajaran Islam jelas bertentangan sekali kepercayaan Jepang dengan Islam, lalu meminta beliau untuk memperhalus sedikit agar tidak membahayakan keselamatan beliau.jika tulisan ini perhalus, itu sesuai dengan buku mereka, maka tak adagunanya tanggapan ini saya tulis sanggahnya. Selang beberapa minggu setelah menyerahkan tulisan untuk menanggapi ajaran Jepang datang lagi dua orang untuk menjemput beliau menghadap ke Kantor Urusan Agama. Orang-orang melepasnya dengan cemas dan pucat serta berprasangka akibat tulisannya menanggapi ajaran Jepang beberapa minggu yang lalu. Begitu pulalah kiranya yang dilakukan Haji Rasul setiap dipanggil Residen Agam di Bukittinggi hingga Penguasa Jepang di Jakarta, meskipun tidak membawa kain kafan namun beliau menggunakan jubah dan surban serba putih, padahal pakaian sehari-harinya adalah pantolan, jas dan dasi.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah, known as Hamka (born in Maninjau, West Sumatra February 17, 1908 - July 24, 1981) was a prominent Indonesian author, ulema and politician.