Civil Society versus Masyarakat Madani: Arkeologi Pemikiran

Civil Society versus Masyarakat Madani: Arkeologi Pemikiran "Civil Society" dalam Islam Indonesia

by Ahmad Baso

Comparison of the civil society concept with the Indonesian Islamic concept of civil society (masyarakat madani)

  • Language: Indonesian
  • Category: Uncategorized
  • Rating: 4.36
  • Pages: 402
  • Publish Date: October 1999 by Pustaka Hidayah
  • Isbn10: 9799109213
  • Isbn13: 9789799109217

Read the Book "Civil Society versus Masyarakat Madani: Arkeologi Pemikiran "Civil Society" dalam Islam Indonesia" Online

Dengan mengandalkan pada metode penelitian sejarah yang disebut arkeologi, yang dipelopori oleh seorang filsuf postmodern asal Prancis, Michel Foucault ( 1926-1984 ) , penulis buku ini mengkaji secara kritis teks-teks yang berhubungan dengan perdebatan Civil Society dalam konteks ( politik ) Islam Indonesia. Yang sangat menarik dari buku utuh ini adalah kesimpulan akhir yang diungkap: bahwa debat Civil Society di Indonesia sama sekali tidak produktif, karena orang-orang yang terlibat di dalamnya hanya menggunakan ajang perdebatan itu sebagai sarana untuk memperkokoh identitas kelompok, bersifat ideologis, politisasi atas hal-hal yang transenden, pencarian legitimasi dari masa lalu, dan romantisisme kejayaan Islam periode klasik. Metode arkeologi itu sendiri amat dekat dengan tradisi strukturalisme yang juga tumbuh di Prancis, yang berpijak pada asumsi otonomi teks. Selain itu, dari berbagai teks Civil Society yang berserakan itu, Baso mencari dan kemudian menemukan gambaran pola pemikiran macam apa yang akan terbentuk, yang nantinya akan menunjukkan sebuah kecenderungan intelektual di Indonesia. Walhasil, aroma ideologis dan eksklusivitas kelompok dalam debat Civil Society di Indonesia yang begitu kental itu ternyata dicium Baso sudah sejak awal, yakni mulai dari ihwal penerjemahan Civil Society menjadi Masyarakat Madani atau Masyarakat Sipil. Tetapi, apa yang terbayang ketika secara agak mengejutkan, Ahmad Baso lalu mengantarkan pembaca kepada suatu pemahaman bahwa konsep Civil Society-nya Nurcholish malah cenderung memiliki simpul pemikiran bahwa Civil Society dapat, dan sering, punya sisi-sisi buruk dan bahwa kiprah Civil Society yang bebas tak terkekang bukanlah suatu gagasan yang harus disambut hangat, melainkan pikiran yang sungguh mengerikan , sehingga akhirnya dalam Civil Society pribadi : diakui hak-hak asasinya oleh negara, tapi, sebagai imbalannya, dituntut penunaian kewajiban kepada negara, dan tidak punya makna apa-apa membicarakan Civil Society tanpa negara yang cukup tangguh, dan karena negara kita adalah negara yang sedemikian besar tetapi fragile atau mudah pecah maka hanya militer yang dapat menanggulanginya . Kritik yang dilancarkan Baso dalam hal ini adalah sikap Hikamseperti juga orang-orang lain yang terlibat dalam wacana Civil Society iniyang dengan seenaknya saja mengutip pandangan tokoh-tokoh itu dengan melepaskan historisitas pemikiran yang ikut lahir bersama. Nampaknya Hikam mulai bingung ketika kalangan NU sendiri akhirnya harus menyerah dengan hanya menitikberatkan perjuangannya pada level masyarakat dan harus ikut bermain dalam arena kekuasaan ( negara ) , dengan menulis bahwa Civil Society perlu dipertimbangkan. Status epistemologis sebuah wacana dalam konteks Indonesia masih banyak ditentukan dan diarahkan oleh konstruksi identitas diri yang telah terbentuk sebelumnya, sehingga arah berkembangnya wacana tersebut hanyalah permainan peneguhan politik identitas itu sendiri. Sejalan dengan hal tersebut, Ahmad Baso sendiri di dalam buku ini juga mengkritik terhadap belum adanya kecenderungan analisis pemikiran Islam yang mengarah kepada sebuah sistem pemikiran yang utuh. * * * Selain kritik terhadap kecenderungan kajian keilmuan ( keislaman ) di Indonesia, khususnya tentang perdebatan Civil Society, buku ini juga bisa dilihat sebagai sebuah eksprimentasi metodologis dari sebuah perangkat metodologis yang relatif baru dalam kancah metodologi analisis sosial, yakni metode arkeologi ( pengetahuan ) . Demam pemikiran Strukturalisme di Prancis yang mewabah pada sekitar akhir 1960-an merupakan suatu bentuk ekspresi kekecewaan kaum intelektual Prancis dengan paradigma berpikir kaum Marxis dalam menganalisis kehidupan sosial-politik masyarakat. Dengan bertolak pada asumsi-asumsi pemikiran strukturalisme itu, metode arkeologi Michel Foucault sebenarnya lalu identik dengan sebuah pelacakan sejarah yang berusaha meneliti proses penataan teks-teks sehingga mengarah kepada suatu irama kebenaran tertentu. Dalam konteks ini, metode arkeologi Foucault yang berbasis penelitian ( kritik ) sejarah oleh Habermas disejajarkan dengan metode dekonstruksi Jacques Derrida yang mengkritik rasio modernisme dengan bertolak dari kritiknya terhadap Metafisika Kehadiran dalam pemikiran Filsafat Barat (Habermas, 1998: 254 ) . Dengan hanya meneliti struktur internal teks, kaum strukturalis dianggap menjauh dari realitas sosial-empiris yang bersifat aktual dan lebih konkret. Akan tetapi haruslah dipahami bahwa dengan mengalihkan fokus perhatiannya dari kenyataan konkret menuju struktur internal teks, kaum strukturalis bukan hendak meninggalkan realitas sosial-empiris sepenuhnya, melainkan langkah ini dilakukan demi menemukan suatu pemahaman yang lebih bersifat asasi terhadap realitas empiris yang terjadi. Ahmad Baso melalui buku ini setidaknya juga telah ikut membuktikan keampuhan metode arkeologi ala ( pasca)strukturalisme Foucault, terutama dalam membongkar eksklusivisme-ideologis kaum intelektual Indonesia yang terlibat dalam debat Civil Society. Akan tetapi, sejauh mengenai resiko atau bahaya yang juga diusung pemikiran postmodernisme yang cenderung berujung pada nihilisme ini, cukup penting untuk dikutip sepenggal ujaran Foucault pada salah satu karyanya: ...Yang saya persoalkan bukanlah bahwa segalanya buruk, melainkan bahwa segala sesuatu itu berbahaya, yang tidak persis sama dengan buruk.