Rafilus

Rafilus

by Budi Darma

Seluruh tokoh dalam Rafilus adalah manusia yang terkondisi oleh kesadaran akan keterbatasannya.Dalam Rafilus, Budi Darma terus mengikuti perjalanan imajinasinya dengan cermat.

Tema, penokohan, dan cara penyajian yang merupakan ciri khas Budi Darma terangkat dengan sendirinya.

  • Language: Indonesian
  • Category: Novels
  • Rating: 3.75
  • Pages: 198
  • Publish Date: 1988 by Balai Pustaka
  • Isbn10: 9794071374
  • Isbn13: 9789794071373

Read the Book "Rafilus" Online

seorang guru besar (saya tidak tahu apakah saat tulisan ini selesai Budi Darma sudah menjadi guru besar) dengan kesibukan luar biasa bisa menyelesaikan novel tebal dan mendalam hanya dalam waktu 3 bulan membuat saya sangat ingin menulis (serius) lagi 7.

Rasanya belum pernah saya membaca kehidupan yang begitu lambat seperti dalam Rafilus ini. Semua tokohnya suka bercerita tentang dirinya sendiri dan semua tokohnya juga beranggapan bahwa mereka adalah pendengar setia orang lain. Di sepanjang proses membaca, saya memutuskan untuk tidak berpikir terlalu dalam mengenai makna yang hendak disampaikan pengarang. Saat membaca satu per satu itulah saya mulai setuju dengan pengarang bahwa kehidupan mereka jauh lebih membosankan dari dugaan saya semula. Dan ada kalimat pengantar berikut ini oleh pengarang, yang baru saya amini setelah sampai pada akhir cerita. Padahal, semenjak bertemu dengan dia untuk pertama kali beberapa bulan lalu, saya mendapat kesan bahwa dia tidak akan mati. Oleh sebab itu, seperti saya katakan tadi, saya tak hendak memikirkan terlalu dalam makna novel ini, karena bahkan pengarang sendiri di bagian akhir buku mengatakan bahwa: Dalam proses kreatif, abstraksi dan peristiwa dapat membaur. "Rafilus telah mati dua kali" adalah abstraksi yang sudah merupakan peristiwa, dan siap menggelinding untuk berangkat dengan peristiwa-peristiwa lain.

Budi Darma adalah penulis yang tidak mempedulikan gaya tulisan orang lain.

Begitu sadar saya sudah membaca 70% dari keseluruhan novel dan isinya hanya surat menyurat antara Tiwar dan Prawesti dan kemunculan tokoh-tokoh tidak penting lainnya, saya merasa dibohongi. Beberapa kali saya tergoda untuk membuka halaman terakhir, atau membaca sinopsis lengkap di internet, tapi itu tidak saya lakukan demi menghormati si penulis dan uang yang saya belanjakan untuk buku ini. Kekurangan novel ini menurut saya (maaf jika tidak berkenan), selain porsi Rafilus yang hanya 10%, terlalu banyak tokoh yang muncul tanpa arti, masing-masing dengan cerita sendiri dan tidak ada benang merah tebal dengan tokoh utama, semuanya tipis. Bahkan Tiwar sendiri (yang dipinjam mulutnya untuk menceritakan Rafilus) tidak begitu terasa kedekatan yang bisa membuat Tiwar terpesona pada Rafilushanya seorang kenalan di pesta Jumarupdikagumi karena berbadan kuat. Kelebihannya tentu saja dari gaya penceritaan yang mengalir dan enak (buktinya saya terlena hingga tidak sadar jika sudah dibohongi, 70% cerita tidak ada hubungannya dengan Rafilus dan saya terus aja membaca).

a. Laki laki bernama rafilus yang dianggap sebagai keturunan iblis/setan; karena memiliki tulang bak besi dan urat bak kawat b.

Terkadang saya tidak habis pikir dengan imajinasi Pak Budi Darma ketika memuntahkan seluruhnya ke dalam sebuah karya yang indah, magis sekaligus absurd. Sekali lagi, sebenarnya saya terlanjur bingung untuk menulis resensi seperti apa setelah membaca paragraf terakhir dari buku ini. Hari ini, tanpa pernah hidup kembali, dia mati lagi." Kalimat- kalimat awal tersebut kemudian mengajak saya ke dalam sebuah rentetan pengakuan dari tokoh- tokoh yang bercerita tentang diri mereka masing- masing dan bagaimana mereka bercerita tentang orang lain- lain. Namun, lagi- lagi, karena ia Rafilus, maka karya- karyanya tidak membikin kesan (bahkan, kata Pawestri, dia memiliki otak yang tak cemerlang). Tidak banyak kesan pada saya terkait tokoh ini tetapi apa yang paling saya sukai adalah ia sangat pandai bercerita. Nasib membawanya ke dalam runutan cerita buku ini dengan gagasan- gagasan yang menurut saya keren sebagai seorang perempuan. 4. Tiwar, tokoh aku, yang menjadi pengamat (atau pendengar) dari segala macam cerita yang dihimpun dalam buku ini. Kesan dari laki- laki ini adalah bahwa seperti yang digambarkan Pawestri - ia laki- laki basah - yang menahami berbagai fenomena. Tidak banyak cerita dari Tiwar ini selain ia mampu membahasakan kembali apa yang dibaca dan dilihatnya dalam sebuah runtutan. Van der Klooning, Van Jan Kraal, Dokter Ahmad Bakri, dan Bamboo adalah sekian tokoh unik yang diceritakan dalam buku ini (recommended bgt).

karena memang budi darma ini peduli sekali dengan detail. tapi itu menjadi karakteristik sendiri ketika memang sebuah novel disengajakan dalam alur yang lambat.

Perbedaannya ialah karena penulis mengikuti premis "Rafilus telah mati dua kali", maka nasib Rafilus sebagai tokoh utama tidak semujur Madras dalam novel Ny. Talis. Dalam salah satu surat, Pawestri mengungkapkan bahwa walaupun ia bukan seorang siapa-siapa dan tidak lahir dari keluarga yang ideal, ia ingin sekali menjadi seseorang yang berbahagia dan bermakna. Anak dalam cerita Rafilus dimaknai sebagai harapan dan cita-cita orang tuanya. Pandangan Pawestri terhadap anak, walaupun berangkat dari aspirasi untuk bangkit dari keterpurukannya, ternyata juga cukup realistis. Pandangan Munandir, upas pos yang sering mengantar surat kepada Tiwar, juga tampak mengagungkan keberadaan anak. Walaupun di akhir novel cerita itu ternyata hanya bualan, tampak sekali bahwa anak adalah aspirasi penting untuk tokoh-tokohnya. Tiwar dan Rafilus juga diceritakan ingin memiliki anak, meskipun terkesan hanya sebuah angan untuk menimang-nimang saja.

Lulus dari SMA di Semarang pada 1957, ia memasuki Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada. Lulus dari UGM, ia bekerja sebagai dosen pada Jurusan Bahasa Inggriskini Universitas Negeri Surabayasampai kini. Budi Darma mulai dikenal luas di kalangan sastra sejak ia menerbitkan sejumlah cerita pendek absurd di majalah sastra Horison pada 1970-an. Belakangan, Budi Darma juga menyiarkan cerita di surat kabar, misalnya Kompas; pada 1999 dan 2001 karyanya menjadi cerita pendek terbaik di harian itu.